Translate

Kamis, 20 Desember 2012

marfologi khamir


I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Khamir termasuk fungi, namun dibedakan dari kapang karena bentuknya yang tterutama uniselular. Sebagai sel tunggal, khamir tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibandingkan dengan kapang yang tumbuh dengan pembentukan filamen. Khamir juga lebih efektif dalam memecah komponen kimia, karena khamir mempunyai perbandingan luas permukaan dengan volume yang lebih besar.
Khamir pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan sifat-sifat fisiologinya dan tidak atas perbedaan morfologinya seperti pada kapang. Beberapa khamir tidak membentuk spora dan digolongkan ke dalam dungi Imperfekti, dan yang lainnya membentuk spora seksual sehingga digolongkan ke dalam Ascomycetes dan Basidiomycetes.

B.     Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk membedakan sel khamir yang hidup dengan sel khamir yang mati, dan menghitung persentase kematian sel khamir dengan pengecatan sederhana.













II. TINJAUAN PUSTAKA
Khamir dapat membentuk lapisan filament di atas permukaan medium cair. Produksi pigmen karoteroid menandakan adanya pertumbuhan genus Rhodotorula. Sulit membedakan antara khamir dengan bakteri pada medium agar (Entjang, 2003).
Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang 1-5 µm sampai 20-50µm, dan lebar 1-10µm. sel vegetatif yang berbentuk apikulat atau lemon merupakan karakteristik grup khamir yang ditemukan pada tahap awal fermentasi alami buah-buahan dan bahan lain yang mengandung gula (Fardiaz, 1989).
Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari jaringan hewan. Khamir bereproduksi secara aseksual, dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk. Beberapa fungi dapat tumbuh sebagai sel tunggal atau sebagai miselium filament, tergantung pada ketersediaan zat-zat hara yang ada (Cambell, 2003).
Pada umumnya sel khamir lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Khamir sangan beragam ukurannya, berkisar antara 1 sampai 5 µm lebarnya dan panjangnya dari 5 sampai 30 µm atau lebih. Biasanya berbentuk telur, tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola (Pelczar, 1986).
Dalam kultur yang sama, ukuran dan bentuk sel khamir mungkin berbeda karena pengaruh umur sel dan lingkungan selama pertumbuhan. Sel yang muda mungkin berbeda bentuk dari yang tua karena adanya proses ontogeny, yaitu perkembangan individu sel (Fardiaz, 1989).






III. METODE PERCOBAAN
A.    Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biakan khamir Saccharomices cereviseae dan larutan methylen blue 0,01%.
Sedangkan alat yang digunakan adalah kaca benda, kaca penutup, ose, Bunsen, dan mikroskop.

B.     Cara Kerja
1.      Dibersihkan kaca benda dan kaca penutup dengan menggunakan alcohol.
2.      Diambil satu koloni biakan khamir, lalu diletakkan diatas benda.
3.      Diteteskan methylen blue di atas kaca benda yang sudah diletakkan biakan khamir.
4.      Ditutup kaca benda dengan kaca penutup.
5.      Diamati dibawah mikroskop pada pembesaran 40X. sel khamir yang hidup akan bewarna transparan sedangkan sel khamir yang mati akan berwarna biru.
6.      Dihitung jumlah sel yang hidup (A) dan sel khamir mati (B) dalam satu bidang pandangan dengan menggunakan rumus berikut:
7.      Diulangi sampai 10 bidang pandangan. Pengamatan ini harus dilakukan dengan cepat karana makin lama sel dalam larutan methylen blue, maka makin banyak sel yang mati.







IV. DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Hasil Pengamatan
Penglihatan Ke-
Jumlah Sel Khamir yang Mati
1
 7 Sel
2
21 Sel
3
57 Sel
4
64 Sel
5
66 Sel
6
70 Sel
7
83 Sel
8
94 Sel
9
108 Sel
10
116 Sel

Tugas 1 di modul ; menghitung persentase kematian

Tugas 2 di modul; gambar morfologi khamir yang terlihat pada mikroskop









B. Pembahasan
Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari jaringan hewan. Khamir bereproduksi secara aseksual, dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk.
Khamir adalah fungi ekasel (uniselular) yang beberapa jenis spesiesnya umum digunakan untuk membuat roti, fermentasi minuman beralkohol, dan bahkan digunakan percobaan sel bahan bakar. Kebanyakan khamir merupakan anggota divisi Ascomycota, walaupun ada juga yang digolongkan dalam Basidiomycota. Beberapa jenis khamir, seperti Candida albicans, dapat menyebabkan infeksi pada manusia (kandidiasis).
Saccharomyces merupakan genus khamir  yang memiliki kemampuan mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2. Saccharomyces merupakan mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil, termasuk termasuk kelompok Eumycetes. Tumbuh baik pada suhu 30oCdan pH 4,8 .Beberapa kelebihan Saccharomyces dalam proses fermentasi yaitu mikroorganisme ini cepat berkembang biak, tahan terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap suhu yang tinggi, mempunyai sifat stabil dan cepat mengadakan adaptasi. Pertumbuhan Saccharomyces dipengaruhi oleh adanya penambahan nutrisi yaitu unsur C sebagai sumber carbon, unsur N yang diperoleh dari penambahan urea, ZA, amonium dan pepton, mineral dan vitamin.[2] Suhu optimum untuk fermentasi antara 28 – 30 oC.
Saccharomyces cerevisiae merupakan spesies dari Saccharomyces dan merupakan mikroorganisme yang sangat dikenal oleh masyarakat luas sebagai ragi roti (baker’s yeast). Ragi roti ini digunakan dalam pembuatan makanan, minuman dan juga dalam industri etanol. Ragi Saccharomyces cerevisiae mempunyai sekitar 14.000 kb DNA kromosom  (85& dari DNA total) yang terdistribusi ke dalam 16 kromosom yang berbeda dan telah dikarakterisasi secara genetik. Selain itu Saccharomyces  cerevisiae  mempunyai dua unsur genetik yang lain, yaitu DNA mitokondria dan DNA plasmid 2m. Beberapa galur mengandung unsur ketiga yang disebut plasmid pembunuh (killer plasmid).
Fungsi dari methylen blue ini adalah sebagai pewarna sel dari sampel sehingga morfologi kapang dan khamir sampel tersebut dapat terlihat. Khusus pada percobaan morfologi khamir, methylen blue digunakan untuk melihat sel khamir yang mati.
Pengaruh penambahan methylen blue pada koloni khamir yang mau dilihat adalah semakin lama sel dalam methylen blue, maka makin banyak sel khamir yang akan mati. Sel khamir yang mati akan berwarna biru sedangkan sel khamir yang hidup berwarna trasparan.
Dari data pengamatan, diperoleh bahwa semakin lama sel didalam methylen blue, maka semakin banyak jumlah sel yang mati, dengan demikian , maka persentase kematian semakin meningkat sesuai dengan berjalannya waktu. Seterlah dilakukan 10 kali pengamatan diperoleh data sebagai berikut pengamatan pertama terlihat sel mati sebanyak 7 sel, pada pengamatan kedua sel mati menjadi 21 sel, pada pengamatan ketiga sel matinya semakin bertambah yaitu menjadi 57 sel, selanjutnya pada pangamatan keempat sel ati menjadi 64, pengamatan kelima terlihat 66 sel mati, pada pengamatan keenam sel mati menjadi 70 sel, pangamatan kedelapan sel mati bertambah lagi menjadi 94 sel, pada pangamatan kesembilan sel mati menjadi 108 sel, dan pada pengamatan terakhir sel mati menjadi 116 sel. Dari semua pengamatan didapatkan rerata sel mati sebanyak 68,6 dan rerata sel hidup sebanyak 100, dan persentase kematiannya 40,69 %.











V. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari peercobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari jaringan hewan.
2.      Saccharomices sereviseae adalah salah satu jenis khamir yang sering digunakan dalam pembuatan ragi roti.
3.      Fungsi penambahan methylen blue pada objek adalah untuk melihat sel khamir yang mati.
4.      Semakin lama sel di dalam methylen blue, maka semakin banyak sel khamir yang akan mati.
5.      Pada umumnya sel khamir lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar.

















DAFTAR PUSTAKA
Campbell., Reece dan Mitcheel. 2003. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Entjeng, I. 2003. Mikrobiologi dan Parastologi. PT Citra Aditya Bakti, Jakarta.
Fardiaz, Srikandi. 1989. Mikrobiologi Pangan. IPB, Bogor.
Pelczar, Jr. 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press, Jakarta.


STERILISASI


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada saat sekarang ini ,dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan, maka semakin tinggi pula rasa ingin tahu seseorang terhadap apa yang terdapat di alam sampai pada mikrooorganisme yang tak dapat di lihat dengan mata telanjang/berukuran kecil. Para peniliti mulai mencari tahu akan apa yang terkandunng pada mikroorganisme tersebut dengan melakukan berbagai praktikum.
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi juga harus dalam keadaan steril atau bebas dari kuman serta bakteri, virus dan jamur. Dan untuk mensterilkannya diperlukan pula pengetahuan tentang cara- cara atau teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat- alat yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi memiliki teknik sterilisasi yang berbeda . Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui teknik pengenalan, penyiapan dan penggunaan serta fungsi dan prinsip kerja setiap alat laboratorium mikrobiologi.Selain itu pula untuk mengetahui teknik sterilisasi dari alat-alat tersebut.

B. Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari dan mempraktekkan cara-cara sterilisasi.








II. TINJAUAN PUSTAKA
Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Dalam sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas seperti spora bakteri. Sterilisasi dengan autoclave biasanya disebut sterilisasi basah. Atau sterilisator uap yang mudah diangkat (portable) dengan menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121Oc disebabkan oleh tekanan 1 atm. Selain dengan menggunakan sterilisasi basah, juga dapat menggunakan metode lain seperti Perebusan, Tyndalisasi, Pasteurisasi, Pemanasan Kering, Radiasi, Radiasi ionisasi, Penyaringan, dan lain-lain (Fardiaz, 1989)
Sterilisasi terhadap alat yang bahan bakunya adalah logam dan kaca, sebelum disterilkan dicuci terlebih dahulu. Alat yang terbuat dari kaca seperti tabung reaksi, pipet tetes, petridisk, mula-mula dibersihkan terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan kain gas. Setelah itu disterilkan dengan menggunakan metode pemanasan secara kering, suhu mencapai 160oC, jarak waktu mencapai 1 sampai 2 jam, kemudian didiamkan agar suhu turun perlahan-lahan (Gabriel, 1988).
Sterilisasi adalah proses pemusnahan bakteri dengan cara membunuh mikroorganisme.Ada juga yang meneybutkan Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi secara umum mengacu pada setiap proses yang efektif untuk membunuh atau menghilangkan dari semua organisme hidup (Anonim, 2009).
Tahapan penting yang mutlak harus dilakukan selama bekerja di ruang praktikum mikrobiologi adalah prinsip sterilisasi. Bahan atau peralatan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang menganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikrooranisme disebut dengan sterilisasi (Cappuccino, 1983).
III. METODE PERCOBAAN
A.    Alat dan Bahan
Dalam percobaan ini tidak ada bahan yang digunakan, sedangkan alat yang digunakan adalah tabung reaksi, petridisk, autoclave, plastik 2,5 Kg, kertas buram, kapas, dan kertas aluminium voir.

B.     Cara Kerja
1.      Diambil 4  pasang petridisk dan 4 buah tabung reaksi.
2.      Petridisk di bungkus dengan kertas buram.
3.      Tabung reaksi titutup mulutnya dengan kapas kemudian dilapisi lagi dengan kertas aluminium voir.
4.      Petridisk dan tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam plastik dan diikat plastik dengan karet.
5.      Dimasukkan ke dalam Autoclave.
6.      Diatur suhu 121oC dan waktu 15 menit.
7.      Ditutup Autoclave dengan kuat.
8.      Dihidupkan Autoclave dan ditunggu sampai suhunya dibawah 80oC.












IV. DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Data Hasil Pengamatan
Dalam percobaan ini tidak ada data hasil pengamatan. Karena tidak ada hal yang diamati.

B.     Pembahasan
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
1.      Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2.      Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
Pemanasan dengan api langsung membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll. Panas kering
sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Uap air panas konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi. Uap air panas bertekanan  menggunalkan autoklaf dengan menggunakan panas dan tekanan dari uap air. Temperature sterilasi biasanya 121°C. Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV.
3.      Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara  lain alcohol atau larutan formalin. Pada praktikum kali ini menggunakan sterilisasi secara fisik dengan menggunakan autoclave dengan prinsipnya sterilisasi dengan pemanasan menggunakan uap air panas bertekanan.
Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 1210C (250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC.
Cara untuk menggunkan autoclave adalah pertama sebelum melakukan sterilisasi dicek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat. Selanjutnya masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol bertutup ulir, maka tutup harus dikendorkan. Lalu tutup autoklaf dengan rapat dan kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC. Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.
Cara lain untuk mensterilkan media atau alat adalah dengan cara radiasi yaitu digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang peka terhadap panas, metode ini juga digunakan untuk mensterilkan ruangan di dalam lamina flow cabinet.
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran. Sterilisasi dengan cara radiasi mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan bahan kimia), yaitu:
1.      Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan mikroorganisme.
2.      Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
3.      Karena dikemas dulu baru disterilkan maka alat tersebut tidak mungkin tercemar bakteri lagi sampai kemasan terbuka. Berbeda dengan cara konvensional, yaitu disteril- kan dulu baru dikemas, maka dalam proses pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit penyakit.














V. KESIMPULAN
1.      Sterilisasi adalah proses pemusnahan bakteri dengan cara membunuh mikroorganisme.
2.      Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
3.      Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan.
4.      Radiasi yaitu digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang peka terhadap panas, metode ini juga digunakan untuk mensterilkan ruangan di dalam lamina flow cabinet.




















DAFTAR PUSTAKA
September 2009, 10:51:55)

Cappuccino, J. G. dan Natalie. S. 1983. Microbiology A Laboratory Manual.
Addison-Wesley Publishing Company, New York.

Fardiaz, Srikandi. 1989. Mikrobiologi Pangan. IPB, Bogor.
Grabriel, J. F. 1988. Fisika Kedoktoran.EGC, Jakarta.

ISOLASI PERTUMBUHAN MIKROBA


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Ada beberapa cara umum yang dapat dilakukan untuk mengisolasi mikroba antara lain, untuk mengisolasi bakteri dapat dilakukan dengan cara goresan (streak plate), cara taburan atau tuang (pour palte), cara sebar (spread plate), cara pengenceran (dilution method), serta mikromanipulator (the micromanipulator method).
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi bakteri, fungi, dan khamir dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran serta micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah tekhnik cawan tuang dan cawan gores. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga individu spesies individu spesies dapat dipisahkan dari lainnya.

B. Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dilakukan percobaan ini adalah untuk mempelajari cara mengisolasi mikroba dari biakan campuran serta membiakkan mikroba tersebut.











II. TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan yaitu pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Pada organisme uniseluler pertumbuhan merupakan pertambahan jumlah selyang bearti juga pertambahan jumlah organisme, sedangkan pada organisme multiseluler pertumbuhan merupakan peningkatan jumlah sel per organisme, dimana ukuran sel juga menjadi lebih besar (Fardiaz, 1989).
Pembiakan dengan cara penggoresan (penanaman pada permukaan agar) merupakan cara rutin yang dipakai untuk mengasingkan mikroba agar mendapatkan biakan murni. Sebuah sangkelit dengan panjang kawat 7,5 cm dan garis tengah bulatan 2 mm ditempelkan pada bahan pemeriksaan yang akan dibiakkkan, lalu dioleskan pada daerah tepi permukaan pembiakan padat yang kering (Gupte, 1990).
Isolasi suatu jalur murni pada prinsipnya dapat dilakukan secara bertingkat, tingkat pertama biasa dilakukan secara manual yaitu dengan cara sejauh mungkin mengencerkannya, tingkat kedua adalah dengan media yang bersifat selektif bagi mikroba tertentu atau beberapa yang mungki masih satu golongan, tingkat ketiga dari koloni yang salah satu olah murni mungkin masih perlu untuk diencerkan atau diisolasikan agar kemurniannya dapat lebih meyakinkan (Amifoyo, 1992).
Pertumbahan mikroorganisme tergantung dari kadar air. Bahan-bahan yang larut dalam air akan digunakan oleh mikroorganisme sebagai bahan makanan untuk membentuk bahan sel dan membentuk energi. Tuntutan bernagai mikroorganisme yang menyangkut susunan larutan makanan dan persyaratan lingkungan tertentu sangat berbeda-beda, karena itu diperkenalkan banyak resep untuk membuat media tumbuh mikroorganisme (Schlegel, 1994).
           




III. METODE PERCOBAAN
A.    Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah ikan kaleng yang sudah kadaluarsa, susu yang sudah kadaluarsa, pepaya busuk, tulur ayam ras busuk, dam media yang sudah disterilkan. Sedangkan alat yang digunakan adalah ose, jarum, spreader, tabung reaksi, dan cawan petri.

B.     Cara Kerja
1.      Isolasi Mikroba dari Produk Pangan
a.       Telur busuk sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan larutan pengencer sebanyak 90 ml.
b.      Erlenmeyer ditutup dengan kapas steril, lalu dikocok- kocok. Untuk produk pangan cair, sampel tidak perlu dihancurkan dengan menggunakan blender.
c.       Diambil 1 ml cairan dengan menggunakan pipet tetes dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml larutan pengencer lalu diaduk hingga rata.
d.      Lalu diambil 1 ml larutan dan dilakukan pengenceran hingga 10-3.
e.       Diambil 1 ml larutan pengencer yang 10-3 dituangkan ke dalam cawan petri yang berisi media agar PDA yang sudah padat, kemudian digoyang-goyang cawan petri secara perlahan.
f.       Disimpan bi dalam inkubator dengan suhu 4oC
g.      Kemudian diambil lagi 1 ml larutan penencer yang 10-3 tituangkan ke dalam cawan petri yang berisi media agar PDA cair, lalu diaduk secara perlahan.
h.      Disimpan di dalam laminar flow cabinet.

2.      Menanam Media dari Media Cair atau Media Padat ke Media Padat (Lempeng
a.       Dibagi lempeng bagian bawah cawan petri dengan spidol menjadi 3 bagian: A, B, dan C.
b.      Biakan campuran cair diteteskan atau satu koloni diambil dari media paadat yang diperoleh dengan menggunakan ose dan streaking rapat apada bagian A lengpeng cawan petri.
c.       Ose dipanaskan hingga pijar, didinginkan sebentar lalu streaking dari A ke B lempeng cawan petri.
d.      Ose dipanaskan hingga pijar, didinginkan sebentar lalu streaking dari B ke C lempeng cawan petri.
e.       Ose dipanaskan kembali dan petridish siap diinkubasi.

3.      Menanam Mikroba dari Media Lempeng Agar ke Media Semisolid
a.       Jarum dipanaskan, didiamkan hingga dingin lalu diambil satu koloni dari biakan mikroba pada media lempeng yang telah diperoleh sebelumnya.
b.      Jarum ditusuk tegak lurus pada media semisolid sedalam 2/3 bagian lalu ditarik kembali melalui arah penusukan semula.

4.      Menanam Mikroba dari Media Lempeng ke Media Cair
a.       Ose dipijarkan dan dibiarkan dingin.
b.      Diambil satu koloni mikroba dengan ose dari biakan mikroba sebelumnya.
c.       Dicampurkan koloni tersebut dengan media agar cair di dalam tabung reaksi yang telah disterilkan sebelumnya lalu diaduk.









IV. DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Data Hasil Pengamatan
Bahan
Media
Pengenceran
Hasil
Telur busuk
PDA
10-3


Telur busuk
PDA
10-3


Telur busuk
PDA
10-3


Telur busuk
PDA
10-3

B.     Pembahasan
Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Ada beberapa cara umum yang dapat dilakukan untuk mengisolasi mikroba antara lain, untuk mengisolasi bakteri dapat dilakukan dengan cara goresan (streak plate), cara taburan atau tuang (pour palte), cara sebar (spread plate), cara pengenceran (dilution method), serta mikromanipulator (the micromanipulator method) (Lim, 1990).
Cara goresan (streak plate), prinsip metode ini yaitu mendapatkan koloni yang benar-benar terpisah dari koloni yang lain, sehingga mempermudah proses isolasi. Cara ini dilakukan dengan membagi cawan petri menjadi 3-4 bagian. Ose steril yang telah disiapkan dilekatkan pada sumber isolat, kemudian menggoreskan ose tersebut pada cawan berisi media steril. Goresan dapat dilakukan 3-4 kali membentuk garis horizontal di satu sisi cawan. Ose disterilkan lagi dengan api bunsen, setelah kering ose tersebut digunakan untuk menggores goresan sebelumnya pada sisi cawan kedua. Langkah ini dilanjutkan hingga keempat sisi cawan tergores.
Cara taburan atau tuang (pour palte), teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak begitu banyak mengandung oksigen.
Metode cawan sebar (spread plate) Teknik spread plate (lempeng sebar) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau mengapuskannya di atas media agar yang telah memadat. Bedanya dengan pour plate adalah, pencampuran stok kultur bakteri dilakukan setelah media agar memadat sedangkan pour plate kultur dicampurkan ketika media masih cair (belum memadat). Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian permukaan media agar.
Cara pengenceran (dilution method), tujuan dari teknik ini pada prinsipnya adalah untuk melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Sampel yang telah diambil kemudian disuspensikan dalam aquades steril. Teknik pengenceran sangat penting di dalam analisa mikrobiologi. Karena hampir semua metode perhitungan jumlah sel mikroba mempergunakan teknik ini, seperti TPC (Total Plate Count).
Media atau medium digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangbiakan, maka hendaknya media harus sesuai dengan komposisi bahan yang akan ditumbuhkan mikroorganisme. Berdasarkan hal tersebut di atas maka praktikum ini dilakukan untuk mempelajari macam- macam medium dan mikroba apa yang cocok ditumbuhkan pada medium tersebut. Misalnya media MRS atau PDA (Potato Dexstrose Agar), media ini digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan dan media NA (Nutrien Agar) yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri (Hadioetono, 1993).
Tujuan dari pengenceran yaitu memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Dalam percobaan ini pengenceran yang digunakan adalah 10 -3 dengan sample telur ayam busuk.
Dari data hasil pengamatan yang diamati mikroba yang paling banyak tumbuh yaitu pada media yang ditambahkan dangan bahan papaya busuk. Hal ini dikarenakan papaya busuk mengandung beberapa jenis mikroorganisme seperti kapang, khamir dan bakteri. Namun dari beberapa jenis mikroorganisme trsebut yang banyak terdapat pada bahan ini adalah bakteri, ini dapat dilihat bahwa mikroba yang paling banyak tumbuh adlah pada media NA, dimana media NA merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri.
Berdasarkan hasil praktikum pertumbuhan mikroorganisme tidak ada kaitannya degan lamanya inkubasi dan suhu penyimpanannya. Akan tetapi pertumbuhan mikroorganisme berkaitan erat dengan jumlah factor pengenceran yang dilakukan. Semakin tinggi faktor pengenceran, maka semakin banyak mikroorganisme yang tumbuh, sebaliknya jika faktor pengencerannya semakin rendah (semakin encer suatu larutan pengencer), maka semakin sedikit mikroorganisme yang tumbuh.
Isolasi mikroba dilakukan untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Praktikum ini erat kaitannya dengan praktikum selanjutnya, yaitu pada praktikum ini kita menumbuhkan dan mengisolasi mikroba sedangkan pada praktikum selanjutnya kita akan menghitung minghitung berapa banyak jumlah koloni yang tumbuh.


















V. KESIMPULAN
            Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.        Pertumbuhan yaitu pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup.
2.        Manfaat dilakukan isolasi mikroba adalah untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.
3.        Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi bakteri, fungi, dan khamir dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran serta micromanipulator.
4.        Tujuan dari pengenceran yaitu memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan.
5.        MRS atau PDA (Potato Dexstrose Agar) digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang sedangkan NA (Nutrien Agar) digunakan untuk menumbuhkan bakteri.













DAFTAR PUSTAKA
Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. IPB, Bogor.
Gupte, S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Binarupa Aksara, Jakarta.
Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia, Jakarta.
Lim,D. 1998. Microbiology. McGrow-hill book, New york.
Schlegel, Hans G. 1994. Mikrobiologi Umum. UGM, Yogyakarta.