Translate

Kamis, 20 Desember 2012

marfologi khamir


I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Khamir termasuk fungi, namun dibedakan dari kapang karena bentuknya yang tterutama uniselular. Sebagai sel tunggal, khamir tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibandingkan dengan kapang yang tumbuh dengan pembentukan filamen. Khamir juga lebih efektif dalam memecah komponen kimia, karena khamir mempunyai perbandingan luas permukaan dengan volume yang lebih besar.
Khamir pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan sifat-sifat fisiologinya dan tidak atas perbedaan morfologinya seperti pada kapang. Beberapa khamir tidak membentuk spora dan digolongkan ke dalam dungi Imperfekti, dan yang lainnya membentuk spora seksual sehingga digolongkan ke dalam Ascomycetes dan Basidiomycetes.

B.     Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk membedakan sel khamir yang hidup dengan sel khamir yang mati, dan menghitung persentase kematian sel khamir dengan pengecatan sederhana.













II. TINJAUAN PUSTAKA
Khamir dapat membentuk lapisan filament di atas permukaan medium cair. Produksi pigmen karoteroid menandakan adanya pertumbuhan genus Rhodotorula. Sulit membedakan antara khamir dengan bakteri pada medium agar (Entjang, 2003).
Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang 1-5 µm sampai 20-50µm, dan lebar 1-10µm. sel vegetatif yang berbentuk apikulat atau lemon merupakan karakteristik grup khamir yang ditemukan pada tahap awal fermentasi alami buah-buahan dan bahan lain yang mengandung gula (Fardiaz, 1989).
Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari jaringan hewan. Khamir bereproduksi secara aseksual, dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk. Beberapa fungi dapat tumbuh sebagai sel tunggal atau sebagai miselium filament, tergantung pada ketersediaan zat-zat hara yang ada (Cambell, 2003).
Pada umumnya sel khamir lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Khamir sangan beragam ukurannya, berkisar antara 1 sampai 5 µm lebarnya dan panjangnya dari 5 sampai 30 µm atau lebih. Biasanya berbentuk telur, tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola (Pelczar, 1986).
Dalam kultur yang sama, ukuran dan bentuk sel khamir mungkin berbeda karena pengaruh umur sel dan lingkungan selama pertumbuhan. Sel yang muda mungkin berbeda bentuk dari yang tua karena adanya proses ontogeny, yaitu perkembangan individu sel (Fardiaz, 1989).






III. METODE PERCOBAAN
A.    Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biakan khamir Saccharomices cereviseae dan larutan methylen blue 0,01%.
Sedangkan alat yang digunakan adalah kaca benda, kaca penutup, ose, Bunsen, dan mikroskop.

B.     Cara Kerja
1.      Dibersihkan kaca benda dan kaca penutup dengan menggunakan alcohol.
2.      Diambil satu koloni biakan khamir, lalu diletakkan diatas benda.
3.      Diteteskan methylen blue di atas kaca benda yang sudah diletakkan biakan khamir.
4.      Ditutup kaca benda dengan kaca penutup.
5.      Diamati dibawah mikroskop pada pembesaran 40X. sel khamir yang hidup akan bewarna transparan sedangkan sel khamir yang mati akan berwarna biru.
6.      Dihitung jumlah sel yang hidup (A) dan sel khamir mati (B) dalam satu bidang pandangan dengan menggunakan rumus berikut:
7.      Diulangi sampai 10 bidang pandangan. Pengamatan ini harus dilakukan dengan cepat karana makin lama sel dalam larutan methylen blue, maka makin banyak sel yang mati.







IV. DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Hasil Pengamatan
Penglihatan Ke-
Jumlah Sel Khamir yang Mati
1
 7 Sel
2
21 Sel
3
57 Sel
4
64 Sel
5
66 Sel
6
70 Sel
7
83 Sel
8
94 Sel
9
108 Sel
10
116 Sel

Tugas 1 di modul ; menghitung persentase kematian

Tugas 2 di modul; gambar morfologi khamir yang terlihat pada mikroskop









B. Pembahasan
Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari jaringan hewan. Khamir bereproduksi secara aseksual, dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk.
Khamir adalah fungi ekasel (uniselular) yang beberapa jenis spesiesnya umum digunakan untuk membuat roti, fermentasi minuman beralkohol, dan bahkan digunakan percobaan sel bahan bakar. Kebanyakan khamir merupakan anggota divisi Ascomycota, walaupun ada juga yang digolongkan dalam Basidiomycota. Beberapa jenis khamir, seperti Candida albicans, dapat menyebabkan infeksi pada manusia (kandidiasis).
Saccharomyces merupakan genus khamir  yang memiliki kemampuan mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2. Saccharomyces merupakan mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil, termasuk termasuk kelompok Eumycetes. Tumbuh baik pada suhu 30oCdan pH 4,8 .Beberapa kelebihan Saccharomyces dalam proses fermentasi yaitu mikroorganisme ini cepat berkembang biak, tahan terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap suhu yang tinggi, mempunyai sifat stabil dan cepat mengadakan adaptasi. Pertumbuhan Saccharomyces dipengaruhi oleh adanya penambahan nutrisi yaitu unsur C sebagai sumber carbon, unsur N yang diperoleh dari penambahan urea, ZA, amonium dan pepton, mineral dan vitamin.[2] Suhu optimum untuk fermentasi antara 28 – 30 oC.
Saccharomyces cerevisiae merupakan spesies dari Saccharomyces dan merupakan mikroorganisme yang sangat dikenal oleh masyarakat luas sebagai ragi roti (baker’s yeast). Ragi roti ini digunakan dalam pembuatan makanan, minuman dan juga dalam industri etanol. Ragi Saccharomyces cerevisiae mempunyai sekitar 14.000 kb DNA kromosom  (85& dari DNA total) yang terdistribusi ke dalam 16 kromosom yang berbeda dan telah dikarakterisasi secara genetik. Selain itu Saccharomyces  cerevisiae  mempunyai dua unsur genetik yang lain, yaitu DNA mitokondria dan DNA plasmid 2m. Beberapa galur mengandung unsur ketiga yang disebut plasmid pembunuh (killer plasmid).
Fungsi dari methylen blue ini adalah sebagai pewarna sel dari sampel sehingga morfologi kapang dan khamir sampel tersebut dapat terlihat. Khusus pada percobaan morfologi khamir, methylen blue digunakan untuk melihat sel khamir yang mati.
Pengaruh penambahan methylen blue pada koloni khamir yang mau dilihat adalah semakin lama sel dalam methylen blue, maka makin banyak sel khamir yang akan mati. Sel khamir yang mati akan berwarna biru sedangkan sel khamir yang hidup berwarna trasparan.
Dari data pengamatan, diperoleh bahwa semakin lama sel didalam methylen blue, maka semakin banyak jumlah sel yang mati, dengan demikian , maka persentase kematian semakin meningkat sesuai dengan berjalannya waktu. Seterlah dilakukan 10 kali pengamatan diperoleh data sebagai berikut pengamatan pertama terlihat sel mati sebanyak 7 sel, pada pengamatan kedua sel mati menjadi 21 sel, pada pengamatan ketiga sel matinya semakin bertambah yaitu menjadi 57 sel, selanjutnya pada pangamatan keempat sel ati menjadi 64, pengamatan kelima terlihat 66 sel mati, pada pengamatan keenam sel mati menjadi 70 sel, pangamatan kedelapan sel mati bertambah lagi menjadi 94 sel, pada pangamatan kesembilan sel mati menjadi 108 sel, dan pada pengamatan terakhir sel mati menjadi 116 sel. Dari semua pengamatan didapatkan rerata sel mati sebanyak 68,6 dan rerata sel hidup sebanyak 100, dan persentase kematiannya 40,69 %.











V. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari peercobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari jaringan hewan.
2.      Saccharomices sereviseae adalah salah satu jenis khamir yang sering digunakan dalam pembuatan ragi roti.
3.      Fungsi penambahan methylen blue pada objek adalah untuk melihat sel khamir yang mati.
4.      Semakin lama sel di dalam methylen blue, maka semakin banyak sel khamir yang akan mati.
5.      Pada umumnya sel khamir lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar.

















DAFTAR PUSTAKA
Campbell., Reece dan Mitcheel. 2003. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Entjeng, I. 2003. Mikrobiologi dan Parastologi. PT Citra Aditya Bakti, Jakarta.
Fardiaz, Srikandi. 1989. Mikrobiologi Pangan. IPB, Bogor.
Pelczar, Jr. 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press, Jakarta.


2 komentar: